Langsung ke konten utama
kalkulatorlengkap.com

Kalkulator Pajak Penghasilan

Gunakan kalkulator pajak penghasilan ini untuk menghitung estimasi pajak penghasilan tahunan dari Penghasilan Kena Pajak (PKP), lengkap dengan rincian pajak di setiap lapisan tarif progresif.

Masukkan PKP tahunan secara langsung (penghasilan neto tahunan dikurangi PTKP).

Bagaimana cara menghitung pajak penghasilan dari PKP?

Kalkulator ini menghitung pajak penghasilan tahunan langsung dari Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang sudah Anda ketahui — cocok untuk siapa pun yang ingin melihat bagaimana total pajak terbentuk dari sistem tarif progresif Indonesia, lengkap dengan rincian pajak di setiap lapisan tarif. Berbeda dengan Kalkulator PPh 21 atau Kalkulator Gaji Bersih yang menghitung PKP dari komponen gaji, di sini Anda memasukkan angka PKP secara langsung.

Apa itu PKP?

Penghasilan Kena Pajak (PKP) adalah penghasilan neto tahunan setelah dikurangi seluruh pengurang yang diperbolehkan (seperti biaya jabatan dan iuran pensiun) dan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sesuai status pernikahan dan jumlah tanggungan. PKP inilah — bukan penghasilan bruto — yang menjadi dasar penghitungan pajak progresif.

Rumus dan tabel tarif

Sistem pajak progresif Indonesia mengenakan tarif berbeda untuk setiap lapisan PKP, bukan satu tarif tunggal untuk seluruh PKP:

Lapisan PKP Tarif
Rp 0 – Rp 60.000.000 5%
Rp 60.000.000 – Rp 250.000.000 15%
Rp 250.000.000 – Rp 500.000.000 25%
Rp 500.000.000 – Rp 5.000.000.000 30%
Di atas Rp 5.000.000.000 35%

Setiap lapisan hanya dikenakan tarifnya sendiri atas bagian PKP yang jatuh di lapisan tersebut, lalu seluruh hasilnya dijumlahkan menjadi total pajak tahunan.

Contoh perhitungan

Seseorang memiliki PKP tahunan Rp 300.000.000:

Lapisan 1: Rp 0 – Rp 60.000.000       → 60.000.000 × 5%  = Rp 3.000.000
Lapisan 2: Rp 60.000.000 – Rp 250.000.000 → 190.000.000 × 15% = Rp 28.500.000
Lapisan 3: Rp 250.000.000 – Rp 300.000.000 → 50.000.000 × 25%  = Rp 12.500.000
(sisa PKP sudah habis, lapisan 4 dan 5 tidak terpakai)

Total pajak tahunan = 3.000.000 + 28.500.000 + 12.500.000 = Rp 44.000.000

Contoh dengan PKP yang lebih besar, Rp 750.000.000, yang menembus empat lapisan tarif:

Lapisan 1: 60.000.000 × 5%  = Rp 3.000.000
Lapisan 2: 190.000.000 × 15% = Rp 28.500.000
Lapisan 3: 250.000.000 × 25% = Rp 62.500.000
Lapisan 4: 250.000.000 × 30% = Rp 75.000.000
(sisa PKP sudah habis sebelum mencapai lapisan 5)

Total pajak tahunan = 3.000.000 + 28.500.000 + 62.500.000 + 75.000.000 = Rp 169.000.000

Mengapa penting melihat rincian per lapisan?

Karena tarif progresif sering disalahpahami — banyak yang mengira jika PKP masuk ke lapisan 25%, maka SELURUH PKP dikenakan 25%. Padahal yang terjadi hanya bagian PKP yang berada di lapisan tersebutlah yang dikenakan 25%, sementara bagian di lapisan-lapisan sebelumnya tetap dikenakan tarif yang lebih rendah. Melihat rincian per lapisan membantu memahami mengapa kenaikan penghasilan tidak pernah membuat seluruh penghasilan Anda tiba-tiba kena tarif yang jauh lebih tinggi.

Asumsi dan keterbatasan

  • Kalkulator ini mengasumsikan Anda sudah tahu angka PKP tahunan Anda. Jika belum, gunakan Kalkulator PPh 21 atau Kalkulator Gaji Bersih untuk menghitung PKP dari gaji pokok, tunjangan, dan status PTKP terlebih dahulu.
  • Total pajak tahunan pada kalkulator ini dihitung menggunakan mesin tarif progresif yang sama dengan Kalkulator Gaji Bersih dan Kalkulator PPh 21, sehingga hasilnya konsisten di seluruh kalkulator pajak pada situs ini.
  • Tidak memperhitungkan kredit pajak, potongan khusus, atau ketentuan pajak lain di luar tarif progresif standar PPh Pasal 17 UU HPP 2022.
  • Hasil ini adalah estimasi untuk edukasi dan perencanaan, bukan pengganti perhitungan resmi dari konsultan pajak atau DJP.

Pertanyaan Umum

Apa itu Penghasilan Kena Pajak (PKP)?

PKP adalah penghasilan bersih setelah dikurangi seluruh pengurang yang diperbolehkan (biaya jabatan, iuran pensiun, dll.) dan PTKP. PKP inilah yang menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan menggunakan tarif progresif.

Mengapa penting melihat rincian per lapisan tarif?

Karena sistem pajak progresif Indonesia menerapkan tarif berbeda untuk setiap lapisan penghasilan (bukan satu tarif untuk seluruh PKP), melihat rinciannya membantu memahami bagaimana total pajak Anda terbentuk dan mengapa menaikkan penghasilan tidak membuat SELURUH penghasilan kena tarif yang lebih tinggi — hanya bagian yang melewati ambang batas lapisan tersebut.